by

Aman Abdurrahman Telah Dituntut Hukuman Mati

Titiknews.com – Pimpinan dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman, yang merupakan terdakwa dari kasus terorisme dari bom Thamrin. Ia Aman Abdurrahman telah dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum. Jaksa penenuntu umum menilai Aman telah terbukti merencanakan serangkain serangan terorisme di Indonesia. Selain itu Aman juga dinilai jaksa telah menyebarkan paham radikalisme.

Jaksa juga menyebut Aman telah menyampaikan ceramah-ceramah yang berisi pemerintahan Indonesia merupakan negara thagut yang berdasarkan dengan demokrasi. Aman menuturkan bahwa menurutnya demokrasi dinilai sebagai ajaran kafir.

Berita Terbaru Indonesia 7 Bomber Surabaya Ditolak Dikubur di TPU Putat Gede

“Aman Abdurrahman Telah Dituntut Hukuman Mati” ujar Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta (18/05).

Aman hanya mendengarkan tuntutan jaksa dengan sikap yang tenang. Sesekali ia juga bertopang dagu dan menunduk.

Dalam kasus yang di terima Aman ini, sesuai dengan tuntutan jaksa, Aman telah diduga untuk memerintahkan empat orang agar meledakan bom di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Aman menargetkan lokasi tersebut karena di lokasi tersebut terdapat banyak warga negara asing. Bom tersebut pun akhir nya diledakan di Gerai Starbuck dan Pos Polisi di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016 lalu.

Aman juga telah dituntut karena ia telah menyampaikan kegiatan ceramah yang telah menyuarakan dan menyampaikan rujukan dalam kajian tauhid. Akibat kajian tentang syirik demokrasi tersebut mengakibat kan para pengikuti Aman ini iku terprovokasi dan mempunyai pemahaman secara radikal.

Aman juga diduga adalah orang yang menjadi otak dari pengeboman di Jl Thamrin, Jakarta 2016 dan juga pengeboman di Terminal Kampung Melayu di pertengahan tahun 2017 lalu. Aman sendiri sebelum nya sudah pernah di tangkap pada tanggal 21 Maret 2004, ia ditangkat setelah terjadi ledakan bom di dalam rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, disebut bom tersebut meledak disaat ia sedang melakukan latihan merakit bom.

Pada bulan Febuari 2005, Aman telah divonis hukuman penjara selama 7 tahun. Setelah ia selesai menjalani hukuman tersebut, Aman kembali ditangkap pada tahun 2010 karena ia terbukti telah membiayai pelatihan kelompok teroris di Jantho, Aceh Besar dan ia ditahan di Lp Nusakambangan.

Pada kasus tersebut ia tela divonis selama 9 tahun penjara, hingga ia dinyatakan bebas pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun ia tidak langsung di bebaskan, ia terlebih dahulu di pindahkan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, karena ia disebut telah memiliki pandangan kepada pemerintah Indonesia dan ideologi Pancasila yang falsafah kafir.

Sumber : kumparan.com

News Feed